Oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Diambil dari Harian Waspada
Saudaraku yang baik, tidak ada suatu teriakan nafas pun tanpa seizin Allah. Begitu pun dengan musibah, tidak ada suatu kejadian tanpa kehendak-Nya. Di akhir tahun ini kerap terjadi musibah, seperti kecelakaan pesawat, gempa, tanah longsor, gelombang tsunami, dll. Bagi kita kejadian tersebut sesuatu yang menyengsarakan dan membuat panik, bahkan kita katagorikan kiamat. Padahal, Allah tidak semata-mata mendatangkan musibah kalau memang tidak sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya; dan Allah juga tidak semata-mata mendatangkan petaka jika tidak ada hikmah dibalik kehendak-Nya. Tinggal sekarang, sejauhmana kita bisa memetik hikmah dibalik kehendak-Nya.
Kita harus semakin yakin bahwa segala sesuatu ada hikmah tersembunyi. Termasuk musibah di Aceh dan Sumatra utara yang menewaskan ribuan jiwa. Kita tidak hanya cukup dengan pilu, bersedih hati dalam melihat kejadian tersebut. Tetapi perubahan apa yang akan terjadi pada diri menyaksikan semua itu, ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil. Salah satunya kita semakin sadar bahwa kita lemah dan tidak berdaya, dengan berbagai macam bencana yang terjadi tentunya hati-nurani kita akan menjadi lebih peka dan peduli terhadap sesama. Ada dua bentuk musibah. Musibah bukan berarti azab Allah dan juga ujian Allah. Azab atau siksaan merupakan hukuman bagi orang yang lalai. Bisa jadi azab sebagai kasih sayang Allah, yaitu memperingan dosanya di akhirat atau penghapus dosa terdahulu yang pernah dilakukan. Musibah dapat juga berbentuk ujian. Dan melalui ujian ini dosa seseorang dapat terampuni asalkan tabah menerimanya.
Saudaraku, hikmah dari kejadian yang menimpa Aceh ini, yang pertama menjadi peringatan bagi siapapun yang selama ini lalai lupa bahkan mengkhianati Allah dengan kesombongan, ketakaburan, karena merasa besar dan merasa perkasa. Terbukti kini, kita hanya mahluk lemah yang tiada berdaya. Oleh karena itu mari kita jadikan musibah besar ini membuat kita semakin tertunduk, rendah hati, gemar bersujud. Ketahuilah saudaraku, orang yang rindu selalu bersimpuh agar mendapat pertolongan Allah. Setiap saat, setiap waktu. Karena, tiada mungkin kemuliaan diraih dengan kesombongan. Kemuliaan diraih justru dengan ketundukan dan kerendahan hati.
Hikmah yang kedua, bangsa kita sudah terlalu lama saling melukai, mencabik-cabik dan saling memusuhi. Inilah saatnya Allah mempersatukan kita dengan tujuan yang mulia, bahu membahu menolong saudara kita yang ditimpa musibah. Hikmah yang ketiga, kita pun sudah terlalu lama membutakan hati kita dengan duniawi, dengan memuaskan nafsu. Dan inilah saatnya Allah membukakan pintu hati. Agar nurani kita peka dan peduli atas derita yang menimpa saudara-saudara kita. Saudaraku sekalian, marilah kita lihat apa saja yang bisa kita lakukan. Jangan sia-siakan kesempatan menghidupkan hati nurani kita. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Karena saudara-saudara kita amat menanti uluran tangan kita. Inilah kesempatan termahal dalam hidup kita untuk menjadi manusia bermartabat, berhati nurani, dengan menolong sesama. Datangilah tempat-tempat terdekat, wahai saudara-saudaraku. Lakukan apa saja yang kita sanggup, dengan hati yang tulus.
Semoga musibah yang dialami saudara-saudara kita di Aceh, Sumatara Utara dan diberbagai daerah di negeri kita ini bisa mempererat kepedulian dan kepekaan kita terhadap sesama. Bila itu teguran dari Allah, maka kita harus lebih ingat lagi terhadap hak saudara kita yang terabaikan. Mudah-mudahan dengan musibah kita semakin sadar bahwa semua akan binasa kecuali Allah Yang Maha Hidup. Wallahu a'lam bish shawab