dimensi5: 16 May 2006

Tuesday, May 16, 2006

Identitas Hibrida

Oleh Antariksa

Dalam bukunya yang terkenal, Imagined Communities: Reflections on the Origins and Spread of Nationalism (1983), Ben Anderson menyatakan bahwa “bangsa” adalah sebuah “komunitas imajiner” dan identitas nasional adalah sebuah konstruksi yang diciptakan lewat simbol-simbol dan ritual-ritual dalam hubungannya dengan kategori administratif dan teritori. Menurutnya, bahasa nasional, kesadaran waktu, dan kesadaran ruang, merupakan konstruksi yang diciptakan lewat fasilitas-fasilitas komunikasi. Ia menjelaskan bahwa produksi koran dan buku-buku misalnya, menetapkan standar-standar bahasa yang kemudian menyediakan kondisi bagi terbentuknya sebuah kesadaran nasional.

Kritik yang bisa dikemukan atas pemikiran Anderson ini adalah bahwa ia menganggap bahasa bersifat stabil. Anderson terlalu menekankan aspek homogen, kesatuan, dan kekuatan perasaan kebangsaan yang mengatasi perbedaan klas, gender, etnisitas dsb, dan tidak melihat bahwa perbedaan konteks dan lapangan-lapangan interaksi ternyata menciptakan identitas yang khusus dan berbeda-beda. Ketidakstabilan bahasa, menurut Homi Bhabha (1994), memaksa kita untuk tidak memikirkan kebudayaan dan identitas sebagai entitas yang bersifat tetap, tetapi selalu berubah.

Pemikiran Anderson juga tidak memadai untuk melihat bagaimana kebudayaan dan identitas terbentuk dalam globalisasi. Globalisasi menyediakan sebuah tempat yang lapang bagi konstruksi identitas; pertukaran benda-benda/simbol-simbol dan pergerakan antartempat yang semakin mudah, yang dikombinasikan dengan perkembangan teknologi komunikasi, membuat percampuran dan pertemuan kebudayaan juga semakin mudah.

Dalam globalisasi, kebudayan dan identitas bersifat translokal (Pieterse 1995). Kebudayaan dan identitas tidak lagi mencukupi jika dipahami dalam term tempat, tetapi akan lebih baik jika dikonseptualisasikan dalam term perjalanan. Dalam konsep ini tercakup budaya dan orang yang selalu dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, juga kebudayaan sebagai sites of criss-crossing travellers (Clifford 1992).

Hibriditas, Kreolisasi, dan Mimikri

Ide tentang ketidakstabilan kebudayaan dan identitas dalam globalisasi membawa kita kepada pemahaman bahwa kebudayaan dan identitas selalu merupakan pertemuan dan percampuran berbagai kebudayan dan identitas yang berbeda-beda. Inilah yang disebut hibriditas kebudayaan dan identitas. Batas-batas kebudayaan yang mapan dikaburkan dan dibuat tidak stabil oleh hibridasi.

Dalam subkultur anak muda, hibriditas ini misalnya tampak sebagai hasil internasionalisasi musik (rock, rap, hip metal dll), internasionalisasi merek (MTV, Nike, Levi’s, Coca-Cola dll), internasionalisasi olah raga (NBA, Sepakbola Itali atau Inggris dll). Di sini gaya menjadi aparatus identitas anak muda yang terpenting, dan karena itu menjadi arena hibridasi yang utama. Musik rap dinyanyikan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa (Iwa K, Denada, Neo, G-Tribe dll), gemar menonton Ketoprak Humor sekaligus MTV Unplugged, kaos bergambar klub-klub NBA atau klub sepakbola Itali dan Inggris dsb. Mana yang Indonesia dan mana yang bukan Indonesia tidak lagi penting, karena gaya adalah yang utama.

Pada tahap ini menjadi penting untuk berbicara tentang kreolisasi. Dalam kreolisasi elemen-elemen kebudayaan lain diserap, tetapi dipraktekkan dengan tidak mempertimbangkan makna aslinya. Subkultur rasta di Jamaika memakai rantai di sabuk celana, panjang, menjuntai ke bawah, menyapu lantai. Mereka memakainya sebagai bentuk solidaritas kepada teman-temanya yang dipenjara. Tetapi di Indonesia, rantai semacam itu dipakai untuk pengikat dompet, selain sebagai asesori fesyen, juga agar tak mudah kecopetan.

Konsep kreolisasi sekaligus memberikan cara berpikir alternatif, yang berbeda dengan konsep imperialisme kultural (Tomlinson 1991), yang menganggap Barat telah berhasil melakukan dominasi budaya atas Timur dengan menciptakan “kesadaran palsu” lewat budaya massa, benda-benda konsumen dll. Karena kenyataannya konsumen tidaklah pasif, melainkan menciptakan makna-makna baru bagi benda-benda dan simbol-simbol yang mereka konsumsi.

Homi Bhabha (1994) mengajukan konsep mimikri untuk menggambarkan proses peniruan/peminjaman berbagai elemen kebudayaan. Menurutnya mimikri tidaklah menunjukkan ketergantungan sang terjajah kepada yang dijajah, ketergantungan kulit berwarna kepada kulit putih, tetapi peniru menikmati/bermain dengan ambivalensi yang terjadi dalam proses imitasi. Ini terjadi karena mimikri selalu mengindikasikan makna yang “tidak tepat” dan “salah tempat”, ia imitasi sekaligus subversi.

Dengan begitu mimikri bisa dipandang sebagai strategi menghadapi dominasi. Seperti penyamaran, ia bersifat ambivalen, melanggengkan tetapi sekaligus menegasikan dominasinya. Inilah dasar sebuah identitas hibrida.

Newsletter KUNCI No. 6-7, Mei-Juni 2000

WALI SONGO

"Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha

(Sumber: www.pesantren.net)

YAHUDI SEBAGAI SIMBOL DALAM WACANA ISLAM INDONESIA MASA KINI

Martin van Bruinessen


Kaset Qur'an dan konspirasi Yahudi

Pada tahun 1986 seorang ulama di Bima mengeluh kepada peneliti dari LIPI tentang keberadaan kaset rekaman bacaan Al Qur'an yang dijual di mana-mana. "Sekarang semakin banyak orang puas dengan menyetel kaset saja, mereka tidak berminat lagi untuk belajar qira'ah Al Qur'an sendiri." Berbagai teknologi baru, menurut hematnya, sangat membahayakan agama Islam. Ia mencurigai gejala ini berkaitan dengan konspirasi Yahudi-Zionis untuk menghancurkan Islam. Dalam ceramah-ceramahnya, ia sering menyinggung ancaman-ancaman Yahudi terhadap Islam. Ulama yang pernah bermukim di Makkah selama beberapa tahun ini, menceritakan kepada peneliti tadi bahwa ia banyak tahu tentang tipu daya Yahudi itu dari majalah-majalah yang diterimanya dari Rabithah Al-`Alam Al-Islami (Al-Rabithah dan Muslim World News); selain mengutip pula buku yang bernada ancaman terhadap kemajuan dan perkembangan Islam di dunia seperti Al-Maka'id al-Yahudiyah dan Rencana Yahudi terhadap Penghancuran Islam. Ketika peneliti bertanya gejala apa di Indonesia yang dianggapnya sebagai aktivitas Yahudi-Zionis, ditudingnya organisasi-organisasi seperti Lions Club.[1]


Yahudi sebagai ancaman terhadap nilai-nilai tradisional

Kasus ulama Bima di atas mengejutkan saya karena merupakan pertemuan pertama saya dengan semangat anti-Yahudi yang bukan anti-Israel saja di Indonesia. Di Bima, tentu saja, tidak ada orang Yahudi, dan andaikata terdapat Lions Club pun pastilah bukan mereka yang mengedarkan kaset Muammar Z dan qari-qari lainnya. Mengapa ungkapan keprihatinan sang ulama mengaitkannya dengan Yahudi? Ternyata ia tidak sendirian; beberapa tahun terakhir kian sering kita menjumpai kata "Yahudi" dipakai sebagai julukan negatif bagi perkembangan, pemikiran atau sikap yang dianggap membahayakan umat Islam. "Yahudi" telah menjadi simbol dari sesuatu yang tak mudah diungkapkan secara eksplisit. Yang dimaksudkan, agaknya, bukan agama Yahudi, dan bukan juga kebijaksanaan resmi pemerintah Israel atau pun kelompok Zionis ekstrim, melainkan sesuatu yang lebih abstrak dan tersembunyi.

Ada dua hal menarik berkenaan dengan munculnya Yahudi sebagai simbol dalam wacana Islam di Indonesia. Pertama, Yahudi seringkali disebut dalam konteks kekhawatiran tentang adanya konspirasi untuk menghancurkan Islam. Banyak aspek proses modernisasi, berikut sekularisasi dan rasionalisasi, pergeseran nilai-nilai tradisional, globalisasi ekonomi dan budaya, individualisme dan hedonisme dilihat sebagai hasil rekayasa, bukan proses yang berdiri sendiri. Semua perkembangan barusan diduga kuat telah direncanakan dan dilaksanakan oleh persekongkolan yang memusuhi Islam dan ingin menghancurkannya. Konspirasi rahasia tersebut diidentikkan dengan Yahudi dan Zionis; tetapi setiap orang yang dianggap berjasa demi tujuan persekongkolan tersebut, walaupun agama dan kebangsaannya berbeda, bisa saja dijuluk Yahudi.

Kedua, teori-teori konspirasi dan kecenderungan untuk mengkambinghitamkan Yahudi tentu saja tidak lahir di Indonesia melainkan berasal dari negara-negara Arab - utamanya Arab Saudi, Kuwait dan Mesir. Menyembulnya kebencian kebanyakan orang Arab saat ini kepada orang Yahudi tak bisa dilepaskan dari masalah Palestina. Keprihatinan tentang Zionisme Israel sangat wajar. Meski di sini perlu ditambahkan, kepercayaan akan adanya konspirasi Yahudi untuk menghancurkan Islam dan menguasai seluruh dunia bukan hanya reaksi terhadap eksistensi Israel saja, dan sesungguhnya juga disebabkan penyebaran antisemitisme Barat ke negara-negara Arab.

Sumber yang seringkali menjadi rujukan, yaitu Al-Maka`id Al-Yahudiyah alias Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion alias Ayat-Ayat Setan Yahudi, merupakan hasil fabrikasi beberapa orang anti-Yahudi Rusia dan kemudian dipergunakan sebagai alat propaganda oleh Nazi Jerman. Buku inilah yang pernah merupakan legitimasi utama bagi pembunuhan massal terhadap orang Yahudi oleh Nazi Jerman. Protokol-protokol konon terdiri dari notulen pemerintah rahasia Yahudi tentang strategi mereka untuk menguasai dunia, melalui kapitalisme maupun komunisme, demokrasi maupun kediktatoran, revolusi maupun liberalisasi ekonomi. Pada dasawarsa 1950-an edisi Arabnya terbit, dan belakangan beberapa kali diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Editor-editor Indonesianya tampaknya tidak menyadari bahwa buku ini bukan dokumen sejarah benar melainkan pemalsuan oleh kalangan antisemitis.


Yahudi, Freemason dan kemodernan

Antisemitisme (sikap anti-Yahudi) di Eropa memuncak pada penghujung abad ke-19 dan berkaitan erat dengan kemodernan. Antisemitisme merupakan reaksi terhadap arus perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat serta berkembangnya kapitalisme modern, terhadap gerakan-gerakan liberalisme dan sosialisme, republikanisme dan sekularisme - yakni terhadap memudarnya privilese-privilese lama. Dari sinilah muara adanya keyakinan kuat bahwa semua perubahan sosial dan politik tidak disebabkan oleh dinamika perkembangan sistem ekonomi kapitalis melainkan direncanakan oleh sebuah persekongkolan orang yang ingin mendominasi seluruh dunia: Yahudi dan/atau Freemasonry (Vrijmetselarij).

Yahudi dengan mudah menjadi sasaran tudingan karena mereka tampak beruntung dengan perubahan masyarakat tersebut. Dalam masyarakat Eropa tradisional, orang Yahudi sebagai minoritas agama dikucilkan dan biasanya tidak diperbolehkan berperan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat: politik, pemilikan tanah dan banyak jenis pekerjaan dilarang bagi mereka. Runtuhnya tatanan sosial tradisional dan perkembangan ke arah masyarakat industri berarti juga berakhirnya larangan lama dan kemungkinan mobilitas sosial bagi semua orang Eropa termasuk Yahudi. Bagi golongan yang telah menghilangkan privilese lama dalam proses modernisasi ini, atau yang merindukan masyarakat tradisional, Yahudi menjadi simbol dari semua perubahan yang terjadi; sikap anti-kemodernan diungkapkan dalam bentuk antisemitisme.

Freemasonry memang merupakan organisasi rahasia, agak mirip tarekat dengan ritual dan ajaran yang tak boleh dijelaskan kepada orang luar, tetapi menegaskan nilai humanisme (kemanusiaan) ketimbang nilai religius tradisional. Didirikan di London pada 1717, Freemasonry dengan cepat tersebar di negara-negara Eropa dan telah menjadi musuh bebuyutan Gereja Katolik. Sejumlah pemikir, politisi dan seniman paling terkemuka telah masuk Freemasonry: Goethe, Kant dan Hegel di Jerman, Mozart dan Haydn di Austria, Voltaire, Rousseau dan Diderot di Perancis, George Washington dan Benjamin Franklin di Amerika. Pada abad ke-19, Freemasonry oleh kawan maupun lawannya dikaitkan dengan ide-ide Revolusi Perancis dan dengan kemodernan. Tidak terlalu mengherankan jika Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad `Abduh menjadi anggota Freemasonry sewaktu keduanya berada di Perancis. Sebagai organisasi, Freemasonry tidak mempunyai hubungan khusus dengan keyahudian. Di antara anggotanya memang dijumpai sejumlah orang Yahudi, namun mereka relatif sedikit.[2] Kebetulan saja keduanya telah menjadi simbol dari semua perubahan yang mengancam dunia tradisional.


Lahirnya gerakan Zionisme

Sebagai reaksi terhadap antisemitisme, gerakan Zionisme secara bersamaan lahir pada saat itu pula. Theodor Herzl menulis bukunya Negara Yahudi pada tahun 1896; Muktamar Zionis pertama diselenggarakan di kota Basel, Swis, pada tahun 1897. Para pendiri gerakan ini terdiri dari orang Yahudi sekuler dari Jerman dan Austria. Bagi mereka keyahudian merupakan identitas nasional, bukan identitas agama, dan Zionisme adalah nasionalisme dari suatu bangsa yang belum mempunyai negara. Cita-cita mereka, mendirikan sebuah negara nasional yang sekuler bagi orang Yahudi. Lahirnya gerakan Zionisme tidak ada sangkut pautnya dengan agama Yahudi; faktor pendorong utama adalah keberadaan Yahudi hanya sebagai golongan etnis berstatus "pariah". Namun pilihan mereka akan Palestina sebagai "rumah nasional" bagi bangsa Yahudi tentu saja mengaitkan cita-cita mereka dengan sejarah sakral Yahudi yang tercantum dalam kitab suci Taurat. Hal itu belakangan menyebabkan gerakan Zionisme semakin diwarnai simbol-simbol keagamaan.


Asal-usul "Protokol Zion"

Buku Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion disusun sekitar saat itu pula -- hanya saja tidak oleh para pemimpin gerakan Zionis seperti yang diklaim penyusunnya. Sebagian besar buku ini dicuplik begitu saja dari sebuah roman berjudul Dialog dalam Neraka antara Montesquieu dan Machiavelli, yang ditulis sekitar 1864 oleh seorang pengacara Perancis, Maurice Joly, sebagai kritik terselubung terhadap diktatur Kaisar Napoleon III. Dalam buku ini Montesquieu menyuarakan pendapat liberal dan demokratis (yang agaknya merupakan pendapat pengarang), sedangkan Machiavelli memberi alasan bernada sinis bagi sistem kekuasaan diktatorial. Secara blak-blakan ia mengusulkan sejumlah tindakan dan kebijaksanaan untuk menipu dan memanipulir rakyat. Yang diusulkannya, tidak lain, tindakan dan kebijaksanaan Kaisar Napoleon, yang tujuannya lazim berkedok di belakang perkataan manis dan indah. Buku Joly ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan "masalah Yahudi".

Penyusun Protokol mengambil alih perkataan sinis Machiavelli tersebut yang seolah-olah diusulkan sebagai kebijaksanaan oleh suatu komite rahasia tokoh Yahudi. Perkataan Montesquieu juga diambil alih agar mengesankan bahwa semua gerakan yang melawan status quo, dari liberal moderat sampai sosialis radikal, merupakan bagian dari komplotan Yahudi jahat yang ingin menghancurkan dunia Kristen. Walau sulit menentukan secara pasti siapa sesungguhnya yang menyusun naskah Protokol yang kemudian digunakan untuk edisi cetakan pertama, namun terdapat banyak petunjuk bahwa P.I. Rakhkovsky, kepala dinas rahasia Rusia di Perancis 1884-1902, telah memainkan peranan besar.[3]

Tidak sangsi lagi bahwa Protokol-Protokol ditulis di Perancis; dugaan ini diperkuat utamanya oleh adanya rujukan pada situasi dan peristiwa di Perancis dasawarsa 1890-an. (Hal ini juga menunjukkan bahwa tidak mungkin ada kaitan dengan gerakan Zionisme saat itu, yang didirikan orang Yahudi berbahasa dan budaya Jerman.) Semua perubahan masyarakat - transformasi ekonomi, modernisasi, pembangunan kereta api di bawah tanah di Paris, slogan-slogan revolusi Perancis, cita-cita demokrasi, sosialisme, liberalisme digambarkan sebagai kiat Yahudi untuk menggoyangkan sistem yang mapan sehingga mereka bisa menguasainya. Menurut "editor"nya, teks yang asli konon telah dicuri dari rumah seorang pengurus Freemasonry. Demikian Freemasonry sekaligus dilibatkan dalam teori-teori konspirasi Yahudi dan ditunjukkan sebagai salah satu organisasi rahasia Yahudi.


"Protokol Zion" dan antisemitisme di Eropa

Protokol-Protokol pada awalnya diterbitkan di Rusia dan turut menyebabkan pogrom-pogrom (pembantaian massal) terhadap Yahudi. Hitler menganggap buku ini sangat berguna sebagai bahan propaganda. Meski ia sendiri barangkali percaya pada teori konspirasi Yahudi, namun ia juga sangat sadar akan manfaat buku ini dan semboyan "bahaya Yahudi" dalam usaha mencapai kesatuan orang Jerman dan para simpatisan fasis di luar negeri. Lebih dari 100.000 eksemplar dicetak di Jerman saja, dan terjemahan Inggrisnya sangat laku di Inggris dan Amerika Serikat. Barulah setelah Perang Dunia Kedua - atau lebih tepatnya, setelah berdirinya Israel dan pengusiran sebagian orang Palestina oleh kaum Zionis - buku ini mulai dikenal di dunia Arab dan cepat menjadi buku pegangan.


Antisemitisme tidak memerlukan adanya Yahudi

Propaganda anti-Yahudi Jerman juga mencapai Jepang, negara yang tidak dijumpai adanya Yahudi sama sekali. Tetapi "konspirasi Yahudi untuk menguasai dunia" oleh pihak militer Jepang pernah digunakan pula sebagai legitimasi bagi serangannya terhadap Cina Kuo Min Tang, yang mereka sebut sebagai bagian dari konspirasi Yahudi.

Di Eropa dan Amerika Serikat juga terlihat tidak adanya korelasi yang kuat antara jumlah orang Yahudi di suatu daerah dan tingginya antisemitisme. Baik di Perancis maupun di Amerika antisemitisme pernah sangat merakyat di beberapa daerah yang nyaris tidak mempunyai penduduk Yahudi. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah terbelakang. Yang dibenci orang antisemit di sana, agaknya, bukan orang-orang Yahudi tertentu melainkan budaya perkotaan dan kemodernan pada umumnya.


Antisemitisme dan Zionisme, dua sekutu

Di Eropa, antisemitisme dan Zionisme pernah saling memperkuat (dan sampai sekarang, agaknya, saling memerlukan). Terdapat kepentingan bersama: para Zionis ingin mengajak orang Yahudi dari Eropa ke negara yang ingin diciptakan, sedangkan para antisemit merencanakan "pembersihan etnis". Keberhasilan kedua gerakan politik tersebut merupakan salah satu tragedi terbesar abad ke-20.

Dengan demikian, keberadaan Israel sebagai negara Yahudi merupakan "hadiah" antisemitisme Eropa kepada Timur Tengah. Sangatlah ironis bahwa orang Arab kemudian secara tidak kritis juga mengambil alih ide-ide antisemitis dari Eropa.


Dunia Islam dan Yahudi

Keberadaan orang Yahudi di dunia Islam pada masa lalu umumnya lebih baik daripada di Eropa. Bukan berarti tidak ada diskriminasi atau kebencian terhadap mereka, tetapi sebagai ahl al-kitab mereka lazimnya dilindungi. Di Eropa mereka barulah memperoleh hak-hak bersamaan masa transisi dari masyarakat pertanian ke masyarakat perkotaan dan industri.[4] Kebebasan yang mereka peroleh menimbulkan reaksi; sikap anti-Yahudi berkaitan erat dengan dengan sikap anti-kemodernan. Antisemitisme merupakan salah satu gejala protes terhadap perubahan.

Dalam Islam, tidaklah sulit mencari pembenaran religius untuk membenci Yahudi. Dan belakangan ini kami sering menjumpai pembenaran ini seolah-olah bagian esensial dari Islam. Terdapat sejumlah ayat Qur'an yang mengutuk orang Yahudi Madinah dan sekaligus bisa ditafsirkan sebagai anjuran untuk senantiasa mencurigai dan membenci kaum Yahudi.[5] Tetapi sebenarnya ayat-ayat ini baru belakangan menjadi begitu populer. Asal-usul kebencian yang sesungguhnya, tentu, keberadaan negara Israel di tengah negara-negara Arab, dan kekuatan dahsyat tentara Israel. Ayat-ayat Qur'an tersebut memberikan legitimasi belakangan kepada kebencian yang disebabkan oleh kejadian politik. Tulisan Arab anti-Yahudi, agaknya, lebih diwarnai oleh pengaruh buku antisemit Barat seperti Protokol-Protokol ketimbang ayat-ayat Qur'an yang berkaitan dengan Yahudi. Sebagian besar buku mengenai "bahaya Yahudi" yang diterbitkan di dunia Arab merujuk kepada Protokol-Protokol dan tokoh-tokoh antisemit Barat; hanya beberapa saja yang bertolak dari analisa ayat-ayat Qur'an.


Palestina: nasionalisme atau Islam?

Kekalahan militer negara-negara Arab oleh Israel menimbulkan persepsi bahwa sosialisme dan nasionalisme telah gagal sebagai ideologi yang layak, dan mendukung munculnya "alternatif Islam" yang sejak dulu disponsori Arab Saudi. Lahirnya ideologi Islam politik akhir-akhir ini (terutama varian konservatifnya) berkaitan erat dengan faktor keberadaan Israel. Faktor lain yang berperan, tentu saja, minyak dan kenaikan harga minyak sejak 1973 (berkaitan langsung dengan perang Arab-Israel dan boikot minyak). Dengan kenaikan harga minyak, orang Arab secara berangsur kian diperhatikan Barat, dan perasaan harga diri orang Arab turut terangkat. Di sini kemudian wacana dominan tentang Israel mulai bergeser dan ditentukan oleh Arab Saudi daripada Mesir dan berubah dari wacana nasionalis (Israel lawan Arab) menjadi wacana agama (Yahudi lawan Islam).


"Protokol Zion" di Indonesia

Perbincangan bertema Yahudi, Zionisme dan Israel di kalangan Islam Indonesia cenderung dipengaruhi oleh buku Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion dan tulisan antisemitis Barat lainnya. Setelah perjanjian perdamaian antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina ditandatangani (September 1993), majalah Panji Masyarakat dan Al-Muslimun memuat laporan khusus tentang Yahudi dan Zionisme yang tidak hanya berisi opini dan analisa situasi politik saja tetapi juga menguraikan lagi tentang konspirasi Yahudi berdasarkan Protokol-Protokol sebagai "bahan bukti".[6] Tidak mudah memastikan sejak kapan buku tersebut diketahui di Indonesia. Menurut laporan di Panjimas tadi, majalah ini pernah memuat artikel panjang mengenai "Ancaman Ular Simbolik Yahudi" (salah satu tema dari Protokol-Protokol) pada tahun pertama penerbitannya, yaitu 1959.[7] Dan itu pun mungkin bukan tulisan pertama tentang konspirasi rahasia Yahudi untuk menghancurkan Islam. Namun jika dicermati pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an tulisan serupa ini belum banyak mendapat perhatian.

Adalah Prof.Dr. Ahmad Shalaby, guru besar dari Mesir yang pernah mengajar di PTAIN di Yogyakarta pada dasawarsa 1950-an, yang agaknya memiliki andil dalam memperkenalkan Protokol-Protokol di Indonesia. Bukunya Perbandingan Agama: Agama Yahudi, yang rampung ditulis di Mesir pada tahun 1965, membicarakan panjang lebar Protokol-Protokol. Setelah membahas kitab Taurat dan Talmud sebagai pustaka keagamaan Yahudi, Shalaby menyuguhkan ringkasan Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion, seolah-olah ini pula teks keagamaan Yahudi. Tidak jelas apakah Shalaby pada saat ia mengajar di Indonesia juga telah membicarakan teks tersebut; tampaknya masalah Yahudi waktu itu belum banyak menarik perhatian orang. Terjemahan Melayu buku Shalaby diterbitkan pada tahun 1977 di Singapura, dan terjemahan Indonesia baru pada tahun 1990. Buku ini sering dijadikan rujukan oleh penulis Indonesia. Dipengaruhi langsung oleh Shalaby, penulis buku teks ilmu perbandingan agama dari Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga juga meyakini bahwa "Protokol Pendeta Zionis" merupakan kitab sakral Yahudi ketiga, setelah Perjanjian Lama dan Talmud.[8]

Barulah pada dasawarsa 1980-an konspirasi Yahudi semakin sering dibicarakan di Indonesia. Pada tahun 1982, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Agama (LPPA) Muhammadiyah dan Rabithah Al-`Alam Al-Islami masing-masing menerbitkan buku mengenai Freemasonry sebagai organisasi rahasia Yahudi. Keduanya menyebut Protokol-Protokol sebagai barang bukti yang akurat tentang rencana-rencana rahasia Yahudi.[9] Buku Rabithah menyebutkan adanya keraguan tentang kebenaran Protokol namun menegaskan pula bahwa ia benar-benar merupakan dokumen asli. "Siapa yang membaca dengan teliti teks-teks yang terkandung di dalamnya akan mengetahui bahwa semua rencana yang terdapat di dalamnya telah dilaksanakan di seluruh penjuru dunia" (hal. 156). Hanya, menurut para penulis, rencana Yahudi masa kini pastilah sudah berubah lagi, dan orang harus waspada terhadap kiat baru dari "para pengusaha kejahatan itu, para terompet setan itu, para juru tenu kebinasaan itu, dan para penjaga kuil itu." Pengamatan ini mirip suatu pengakuan bahwa Protokol-Protokol ternyata tidak relevan untuk memahami Zionisme modern. Tetapi teori konspirasi tetap dipertahankan, dan pada tahun-tahun berikut di Indonesia terbit sejumlah terjemahan atau adaptasi Protokol-Protokol:

a. (Versi ringkas dalam:) Dr. Darouza, Mengungkap tentang Yahudi: Watak, Jejak, Pijak dari Kasus-Kasus Lama Bani Israel. Surabaya: Pustaka Progressif, 1982. (terbitan asli: Damascus 1970).

b. (Dikomentari panjang lebar dalam:) Dr. Majid Kailany, Bahaya Zionisme terhadap Dunia Islam. Solo: Pustaka Mantiq, 1988. (terbitan asli: Jeddah, 1984).

c. Skenario Rahasia untuk Menguasai Dunia. Bandung: Hizbul Haq Press, tanpa tahun (1989?). (dengan kata pengantar yang tampaknya ditulis di Pakistan).

d. Ayat-Ayat Setan Yahudi. Dokumen Rahasia Yahudi Menaklukkan Dunia dan Menghancurkan Agama. Jakarta: PT Pustakakarya Grafikatama, 1990. (dengan kata pengantar oleh "Social Reform Society", Kuwait).

Dalam kata pengantar sejumlah edisi ini tidak ditemui isyarat bahwa teks ini hanya berupa sebuah pemalsuan kasar saja. Penulis kata pengantar dua yang terakhir malahan mengklaim - dengan mengabaikan kenyataan - bahwa buku ini sulit didapatkan dan di mana-mana dilarang (gara-gara konspirasi Yahudi, tentu saja). Agaknya, mereka lupa menyebutkan bahwa bukunya pernah dicetak dalam oplag ratusan ribu dan disebarkan ke mana-mana oleh rezim Nazi Jerman, dan di negara-negara Arab sendiri terjemahan Protokol-Protokol dengan mudah diperoleh di mana saja.


Daya tarik teori konspirasi

Teori-teori konspirasi mempunyai daya tarik kuat karena merupakan penjelasan yang mudah difahami dan sekaligus menunjukkan kambing hitam. Teori konspirasi meletakkan tanggungjawab atas segala hal yang tidak disenangi pada orang lain. Penganut teori ini tidak perlu mengungkapkan kekurangan, kelemahan dan kesalahannya sendiri, tidak pula mesti mengkritik diri sendiri karena semua hal dianggap kejahatan pihak lawan. Teori-teori semacam ini menutup kemungkinan orang mencermati sebab-sebab yang sebenarnya, sehingga tidak mudah atau malahan mustahil mengubah secara rasional keadaan yang tidak disenangi.

Teori konspirasi yang disebarkan oleh penyusun Protokol-Protokol menawarkan penjelasan semua peristiwa politik dan ekonomi yang telah terjadi selama satu abad: berkembangnya kapitalisme maupun gerakan-gerakan komunis, revolusi maupun kontrarevolusi, modernisasi dan rasionalisasi sistem ekonomi, gerakan pembebasan dan emansipasi, liberalisme dan sekularisasi. Ini semua dianggap buah dari rekayasa komplotan Zionis yang maha hebat. "Hampir setiap peristiwa besar di dunia berjalan mengikuti tuntutan The Elders of Zion ini. Peperangan, kemerosotan, revolusi, naiknya biaya hidup, dan keresahan berlarut-larut, wujud nyata mengangkangi dunia melalui pintu belakang."[10] Menurut pandangan demikian, orang lain tidak berdaya dan tidak mampu memberi sumbangan terhadap alur sejarah; hanya Yahudi sajalah yang menentukannya.

Teori konspirasi ini sangat berbeda dengan analisa yang mendalam tentang kekuatan dan strategi nyata Zionisme. Negara Israel, organisasi Zionis di luar Israel dan para simpatisan Zionisme melakukan berbagai hal, secara terbuka maupun terselubung, untuk mempengaruhi pendapat umum dan kebijaksanaan negara-negara lain. Lobi-lobi Yahudi di Amerika dan Eropa memang sangat canggih dan berhasil; tetapi kalau aktivitas-aktivitasnya ditelaah secara cermat gambaran yang diperoleh sangat berbeda dengan Protokol-Protokol.[11]


Yahudi sebagai simbol perubahan yang mengancam

Umat Islam Indonesia, sebagai umat Islam negara-negara lain, menjunjung tinggi solidaritas dengan bangsa Palestina. Republik Indonesia tidak mengakui negara Israel, dan seluruh umat Islam Indonesia menganggap berdirinya Israel, apalagi pendudukan Gaza dan Tepi Barat dan pembangunan pemukiman Yahudi di sana, sebagai ketidakadilan yang tidak dapat dibenarkan.

Tetapi belakangan terdengar banyak ungkapan anti-Yahudi yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Israel-Palestina. Yahudi dan kelicikan serta tipu dayanya dikritik, tetapi sasaran kritik ini sesungguhnya bukan orang Yahudi melainkan orang atau situasi di Indonesia sendiri. Rupa-rupa hal di Indonesia yang tidak disenangi (misalnya perkembangan pemikiran Islam liberal, atau konsep Hak Asasi Manusia) dikaitkan dengan konspirasi Yahudi.

Yahudi memang sejak dulu juga dikaitkan dengan golongan atau gerakan lain yang oleh pihak tertentu dianggap membahayakan status quo:

- Faham Syiah, menurut sebagian penulis Sunni, konon berasal dari seorang bekas Yahudi bernama Abdullah bin Saba', yang pura-pura masuk Islam. Ia konon orang pertama yang mengistimewakan Ali bin Abi Thalib dan memulai kultus terhadap Ali dan keturunannya. Alasannya, konon untuk menghancurkan Islam dari dalam. Cerita ini sebagai "penjelasan" lahirnya Syi'ah sudah sangat lama, tetapi oleh kalangan ahli sejarah kebanyakan ditolak. Di Indonesia sendir, hikayat Abdullah bin Saba' disebarkan lagi setelah revolusi Iran, oleh kalangan yang paling dekat ke Arab Saudi (yaitu tokoh-tokoh Dewan Dakwah).[12] Latar belakang politik isu ini tidak dapat diabaikan.

- Freemasonry (Vrijmetselarij) memang suatu gerakan rahasia dan internasional, tetapi di tiap negara mempunyai corak tersendiri. Kasus yang pernah menghebohkan adalah skandal politik dan korupsi menyangkut sebuah cabang Freemasonry di Italia yang anggotanya terdiri dari pengusaha besar, politisi, jaksa dan hakim, militer dan mafia. Di negara lain tidak pernah ada skandal demikian. Anggota Freemasonry pada umumnya terdiri dari orang elit dan berpikiran bebas. Orang Yahudi tidak memainkan peranan menonjol dalam Freemasonry.

- Rotary Club, Lions Club dan sebagainya. Perkumpulan orang elit bercorak khas Amerika. Pada dasarnya sebuah cabang lokal terdiri dari orang yang mewakili semua profesi (seorang dokter, seorang notaris, seorang guru sekolah, seorang pedagang, dan seterusnya), dan tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan. Dapat difahami sekiranya salah satu fungsi utama perkumpulan semacam ini bagi anggotanya adalah menyediakan jaringan "koneksi". (Freemasonry, tentu saja, mempunyai fungsi yang sama). Menurut sebagian penganjur teori tentang konspirasi Yahudi, perkumpulan tersebut mempunyai tujuan rahasia dan merupakan bagian dari persekongkolan Yahudi itu.[13] Di Indonesia sebagian besar anggota perkumpulan tersebut, agaknya, terdiri dari orang Cina.

- Marxisme dan sosialisme-sosialisme lainnya. Karl Marx memang seorang Yahudi (walaupun tak beragama Yahudi), dan sejumlah nama besar di partai-partai kiri dan gerakan buruh Eropa juga Yahudi. Tujuan marxisme sebetulnya bertolak belakang dengan Zionisme, tetapi hal ini diabaikan oleh penganjur teori konspirasi. Baik kapitalisme maupun anti-kapitalisme diyakini merupakan bagian dari konspirasi Yahudi-Zionis yang sama. Dan bukan itu saja; semua pemikiran dan ideologi modern dicurigai, termasuk liberalisme.[14] Hal ini mungkin menunjukkan kepentingan apa, atau kekhawatiran golongan sosial mana, yang ada di balik teori konspirasi Yahudi itu. Seperti halnya di Eropa pada abad yang lalu, tampaknya Yahudi diidentikkan dengan segala aspek proses transformasi masyarakat tradisional, berkembangnya kapitalisme dan individualisme, sekularisasi dan humanisme dan munculnya konflik sosial-ekonomi.


"Yahudi"nya Indonesia

Rasanya tidak terlalu mengejutkan kalau kita menyaksikan di Indonesia belakangan ini pemikir-pemikir Islam berwawasan kosmopolit sudah mulai dijuluk "Yahudi" dan "Zionis" pula. Gerakan pembaharuan Islam yang mengkritik faham-faham mapan, menawarkan pola penafsiran baru dan menganjurkan sikap toleran terhadap sesama Muslim maupun penganut agama lain, tentu saja dicurigai oleh golongan yang berpegang kuat kepada faham mapan. Sepanjang sejarah, para pembaharu sering dituduh ingin menghancurkan agama (sedangkan mereka sendiri mengaku ingin mengembalikan esensi agama kepada kedudukan yang sentral). Dengan semakin populernya teori tentang konspirasi Yahudi, dan mengikuti logika bahwa setiap hal yang mengancam Islam atau kemapanan apa pun adalah ulah Yahudi-Zionis, dengan sendirinya gerakan pembaharuan Islam mudah dituding sebagai bagian dari konspirasi Yahudi.

Setidaknya terdapat dua dimensi pada penjulukan "Yahudi" terhadap sementara pemikir Islam yang liberal. Yang pertama menyangkut pemikiran mereka, yang dituduh dipengaruhi oleh orientalisme (dan orientalisme, tentu saja, dianggap sebagai salah satu senjata Yahudi dalam usahanya untuk menghancurkan Islam). Yang kedua, dan ini yang pada hemat saya lebih penting, menyangkut kosmopolitanisme dan kemodernan mereka serta golongan sosial yang merupakan pendukung utama mereka. Sindiran dengan mencap "Yahudi" dan "Zionis" pernah dilontarkan dalam polemik melawan Nurcholish Madjid dengan Paramadinanya dan kemudian pula melawan LSAF dan majalah Ulumul Qur'an (pernah dijuluk Ulumul Talmud oleh pihak penentang). Yang dimaksud, agaknya, bukan saja keterbukaan, toleransi dan sikap berdamai mereka terhadap agama Kristen dan Yahudi, melainkan sesuatu yang lebih mendasar.

Baik Paramadina maupun LSAF mewakili trend baru dalam umat Islam, berkaitan erat dengan munculnya kelas menengah Islam yang sedang naik daun (dalam ekonomi maupun politik) dan yang mencari gaya Islam yang modern, bergengsi, "canggih" dan "trendy". Kelas baru ini, lebih terpelajar, kosmopolit dan percaya pada diri daripada generasi-generasi sebelumnya. Berikut mereka ini bergaya hidup modern dan individualis serta mungkin pula kurang peduli terhadap kesenjangan sosial yang ada. Bukankah mereka ini yang merupakan sasaran sebenarnya dari julukan "Yahudi"? Dalam polemik berkelanjutan antara penulis muda serial Media Dakwah dengan majalah Ulumul Qur'an, saya (kalau tidak sangat keliru) mencerna juga adanya pertentangan "orang kampungan" lawan "orang gedongan", yang masing-masing mempunya gaya menghayati Islam sendiri.

Di negara Pancasila, pertentangan "antar-golongan" tidak bisa diungkapkan secara terang-terangan, dan itu yang membuat kata "Yahudi" begitu berguna bagi orang tertentu. Indonesia tidak punya hubungan dengan Israel, dan agama Yahudi tidak termasuk lima agama yang resmi diakui. Oleh karena itu, mengutuk Yahudi tidak mengandung risiko tuduhan SARA, berbeda dengan kutukan terhadap pengusaha Cina, pejabat Katolik atau Orang Kaya Baru (bangsa Pondok Indah). Secara demikian teori konspirasi Zionis - Yahudi - Freemasonry - Rotary Club, yang diimpor dalam bentuk siap pakai, terbukti mempunyai fungsi serbaguna di Indonesia. Bukan saja semua perubahan sosial, ekonomi dan budaya yang terjadi dalam masyarakat dapat "dijelaskan" dalam kerangka teori ini, melainkan golongan yang tidak disegani pun dapat dengan mudah dituding pula sebagai bagian dari konspirasi yang sama.

Wacana tentang Yahudi dan konspirasi untuk menguasai dunia, dengan Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion sebagai sumber utama, berasal dari Eropa dan masih mencerminkan pertentangan sosial di Eropa pada masa laju modernisasi berlangsung begitu cepat. Wacana tersebut sampai ke Indonesia melalui Timur Tengah (terutama Arab Saudi) setelah menjadi bagian dari pandangan dunia Islam yang dipropagandakan Rabithah Al-`Alam Al-Islami. Di Indonesia, wacana ini telah mendapat fungsi baru dan diterapkan untuk membicarakan pertentangan yang sesungguhnya kasatmata namun tidak bisa dibicarakan secara terbuka. Wacana ini tidak membantu untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi mungkin saja lebih memuaskan sebagai penjelasan dan pembenaran kegagalan orang daripada sebuah analisa yang sungguh-sungguh. Dan sejarah Eropa abad terakhir ini menunjukkan betapa berbahaya wacana ini.



--------------------------------------------------------------------------------

* Catatan untuk ceramah yang disampaikan di DIAN (Institut Dialog Antar-Iman di Indonesia), Yogyakarta pada 9 Oktober 1993 dan kepada Jamaah Masjid Shalahuddin, Yogyakarta pada 17 Oktober 1993.

[1] Syamsuddin Haris, "Laporan Penelitian Pandangan Sikap Hidup Ulama di Nusa Tenggara Barat", LIPI, 1986.

[2] Pengaruh Freemasonry terhadap gerakan revolusioner Jeunes Turcs ("Orang Turki Muda"), yang pada tahun 1908 menggulingkan pemerintahan otoriter Sultan Abdulhamid II, merupakan kasus yang sering disoroti. Gerakan ini terdiri dari perwira muda dan cendekiawan yang dipengaruhi pemikiran revolusi Perancis, dan sebagian termasuk anggota Freemasonry. Basis utamanya adalah kota Selanik (Thessaloniki, sekarang di Yunani), kota Usmani yang paling modern, dengan penduduk Yahudi yang cukup banyak. Di antara Jeunes Turcs dijumpai beberapa orang Yahudi, walaupun mereka bukan pemimpin teras. Di Indonesia Freemasonry pernah mempunyai pengaruh cukup besar terhadap organisasi nasional pertama, Budi Oetomo; di antara pengurus B.O. dijumpai sejumlah anggota Freemasonry (termasuk Ketua pertama, R.A. Tirtokoesoemo).

[3] Kajian paling mendalam tentang latar belakang Protokol-Protokol adalah: Norman Cohn, Warrant for Genocide: The Myth of the Jewish World-Conspiracy and the Protocols of the Elders of Zion (edisi pertama 1967; edisi ketiga, Chico, CA: Scholars Press, 1981). Cohn menduga bahwa salah seorang sasaran utama pemalsuan ini adalah Menteri Ekonomi Rusia yang memberlakukan reformasi ekonomi pada waktu itu, Witte.

[4] Tentu saja pernah terjadi sejumlah kekecualian; di beberapa kota dan wilayah di Eropa orang Yahudi sejak lama dapat hidup tanpa diganggu orang lain.

[5] Misalnya, dalam Syaikh Musthafa Al Maraghi, 76 Karakter Yahudi dalam Alqur'an. Penyusun: M. Thalib. Solo: Pustaka Mantiq, 1989.

[6]Panji Masyarakat, 1-10 Nopember 1993 (bertema "Dililit Zionisme?"), Al-Muslimun, Desember 1993 (bertema "Makar Yahudi").

[7] Itu agaknya merupakan kekeliruan; saya pernah mencari artikel tersebut dalam bundel tahun pertama Pandji Masjarakat di perpustakaan KITLV di Leiden tetapi tidak menemukannya. Dari tulisan senada yang saya temukan, yang paling lama diterbitkan di majalah ilmiah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1967: "Ular Zionisme dan P.B.B." (tanpa nama penulis), Al-Djami`ah, jilid VI, nomor 5-6, hal. 74-88. Artikel itu dicuplik dari Siaran JAPI, no. 5/67.

[8] Burhanuddin Daya, Agama Yahudi. Yogyakarta: PT. Bagus Arafah, 1982.

[9] Muhammad Safwat as-Saqa Amini & Sa'di Abu Habib, Gerakan Freemasonry. Makkah al-Mukarramah: Rabitah Alam Islami, 1982, hal. 154-6; LPPA-Muhammadiyah, Sorotan Terhadap Free Masonry (Organisasi Rahasia Yahudi). Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982, hal. 88-90.

[10] Kata pengantar pada Ayat-Ayat Setan Yahudi, hal. 15.

[11] Lihat *Paul S. Findley, Mereka Berani Bicara. Bandung, Mizan, 1990.*

[12] Lihat buku propaganda anti-Syiah karangan Ikhsan Ilahi Zhahiri, Syiah dan Sunnah (terjemahan Bey Arifin. Surabaya: Bina Ilmu, 1984, hal. 29-44) dan respons pro-Syiah dalam M. Hashem, 'Abdullah Bin Saba' Benih Fitnah (Bandar Lampung: YAPI, 1987).

[13] Menurut seorang penulis Mesir, Muhammad Fahim Amin, "Tujuan-tujuan Rotary yang dirahasiakan dan yang hakiki ialah untuk merealisir rencana Freemasonry dan Zionisme Internasional, dengan sasaran pokok menghancurkan berbagai bangsa, meruntuhkan negara-negara Goyim (non-Yahudi), mengibarkan bendera Israel dan mendirikan negara Zionis Internasional." (Rahasia Gerakan Freemasonry dan Rotary Club. Jakarta: Al Kautsar, 1992, hal. 150-1). Penulis tampaknya tidak merasa perlu membuktikan tuduhan ini dan tidak mengajukan satu fakta atau dokumen pun.

[14] Demikian, misalnya, editor anonim Ayat-Ayat Setan Yahudi menulis dalam Pendahuluannya (hal. 17-18): "Berbagai istilah seperti liberalisme, egalitas, fraternitas, libertas, sosialisme, komunisme, dan lain-lain, disuapkan kepada pribadi bangsa yang menjadi sasaran mereka lengkap dengan analisa ilmiahnya. Jika telah tertelan oleh seseorang, jadilah ia corong dan terompet untuk wawasan semu, yang cuma mengacaukan sistem yang ada dan pada tingkat selanjutnya: penguasaan bangsa tersebut di bawah telapak kaki mereka!"

Certainty: Condition of "La ilaha ill Allah"

from Shaykh `Obaid bin `Abdullah bin Sulaiman al-Jabiri

Introduction:

In explaining the testimony of faith, Muslim scholars have listed seven conditions of the shahadah, which a Muslim must fulfill so that s/he may be acknowledging the unity of Allah in open and in secret.

These seven are:

1. Al-`Ilm (Knowledge of the meaning of the shahadah, its negation and affirmation)
2. Al-Yaqeen (Certainty – perfect knowledge of it that counter-acts suspicion and doubt)
3. Al-Ikhlaas (Sincerity which negates shirk)
4. Al-Sidq (Truthfulness that permits neither falsehood nor hypocrisy)
5. Al-Mahabbah (Love of the shahadah and its meaning, and being happy with it)
6. Al-Inqiad (Submission to its rightful requirements, which are the duties that must be performed with sincerity to Allah (alone) seeking His pleasure)
7. Al-Qubool (Acceptance that contradicts rejection).

Below is an explanation of the second condition. For other conditions, please refer to the book itself. Islaam.com Ed.



The Second Condition

Certainty: al-Yaqeen

Certainty – it is perfect knowledge of it that counter-acts suspicion and doubt.

The evidence of certainty is His, the Exalted, saying:

Only those are the believers who have believed in Allah and His Messenger, and afterward doubt not but strive with their wealth and their lives for the Cause of Allah. Those! They are the truthful. [Surah al-Hujurat (49):15]

Allah made certainty, without doubt (or suspicions), a condition of true belief (in Allah and His Messenger), since the doubter is from the ranks of the hypocrites (the Munafiqun).

It is narrated from Abu Hurairah radhiallahu `anhu that the Messenger of Allah sallallahu `alayhi wa sallam said: "The servant meeting Allah having testified that there is no deity worthy of worship except Allah and that I am the Messenger of Allah, not doubting them shall enter the Jannah (paradise)." [Muslim – the Book of Iman]

In another narration: "… meeting Allah having testified … is not excluded from Al-Jannah (paradise)." [Muslim – Book of Iman]

It is also narrated from Abu Hurairah (radhiallahu `anhu) in a long hadith ending with, that the Messenger of Allah said: "…whomever you meet behind this wall, testifying that there is no deity worthy of worship except Allah, his heart certain of it, give him the glad tidings of Al-Jannah (paradise)."

His saying: "Only those are the believers who have believed in Allaah and His Messenger…"

"Only…" - confirms that those mentioned are included and all others are excluded.

This means that the people of true belief (Iman), both apparent and hidden, are oly those who believe in Allah and His Messenger. They believe without doubt or suspicion, by their word of mouth and deeds, and they strive in the cause of Allah with their wealth and their lives.

He, the Exalted, therefore says: "…Those! They are the truthful."

From the evidence of the verse (ayah): "…And afterward doubt not…" In this ayah is something that the compiler did not conclude, that the deed is derived from Iman (belief). This ayah is evidence that to strive in the cause of Allah is a "deed" which is an attribute of Iman (faith).

This is confirmed in the Sunnah by a hadith narrated by Abu Jumrah radhiallahu `anhu who said I was with Ibn `Abbas radhiallahu `anhu interpreting for him to the people, when a woman approached him and asked him about wine. He said: a deputation of `Abdul-Qais came to the Messenger of Allah sallallahu `alaihi wa sallam. The Messenger of Allah sallallahu `alaihi wa sallam asked: "Who are the deputation?" (or: Who are the people?) They replied: "Rabiah". He sallallahu `alaihi wa sallam said: Welcome to the people (or welcome to the deputation) neither dishonoured nor regretful. He (meaning Ibn `Abbas radhiallahu `anhu) said: They said: "O Messenger of Allah sallallahu `alaihi wa sallam, we came from a long distance and between us and you is the habitation of the unbelievers (kuffar) of Mudhar. We can only come to you during the prohibited month (i.e. when fighting is not allowed). Order us with a decisive order that we may convey to those we left behind, and (if we follow it) enter Al-Jannah (paradise)", He (Ibn `Abbas radhiallahu `anhu) said: "He [the Messenger of Allah sallallahu `alaihi wa sallam] ordered them (to do) four (things) and forbade them four (things). He (Ibn Abbas radhiallahu `anhu) said: "He ordered them to believe in Allah alone and said: "Do you know what belief in Allah entails?" They said: "Allah and His Messenger know best." He said: "To testify that there is no deity worthy of worship except Allah and that Muhamad is the Messenger of Allah and to perform regular prayers, to practice charity, to fast the month of Ramadhan and to give one fifth of your spoils (of war)…" etc. [Al-Bukhari, Book of Prayer Times]

The evidence, from the Sunnah, is that the Prophet sallallahu `alaihi wa sallam explained belief (Iman) by the visible Islamic deeds and practices.

It is in the Sahih Muslim and it has a story that Abu Hurairah radhiallahu `anhu said: "We were with the Prophet sallallahu `alaihi wa sallam on a journey until all the food the people had with them was exhausted. So some slaughtered some of their mounts. `Omar radhiallahu anhu said: "O Messenger of Allah (sallallahu `alaihi wa sallam) why not collect all that remains of the food of the people and invoke Allah." He did. Those who had wheat brought their wheat, those who had dates brought their dates. Mujahid (radhiallahu `anhu) said: "…and those who had date stones brought their date stones." I (Abu Hurairah radhiallahu `anhu) said: "and what did they do with the stones?" He said: "They sucked them and drank water afterwards." He said: "He invoked Allah until all the people had plenty of food (and he mentioned it)." [Muslim - the Book of Iman]

Regarding his sallallahu `alayhi wa sallam saying: "I bear witness that there is no deity worthy of worship except Allah and that I am the Messenger of Allah." To witness is to inform and testify. Man is obliged to testify that only Allah is worthy of worship and that He is one that the Prophet sallallahu `alaihi wa sallam is the Messenger of Allah.

His saying: "The servant meeting Allah having testified…" This is the evidence from the hadith as in the other narration stating: "The servant meeting Allah having testified… is not excluded from Al-Jannah (Paradise)."

To clarify his sallallahu `alaih wa sallam saying: "… he is not excluded from Al-Jannah (Paradise)", we must explain two things:

First:
To exclude from Al-Jannah (Paradise) is of two kinds:

* Permanent exclusion – in the case of unbelievers. This does not apply to those who meet Allah on Tawhid.
* Temporary exclusion – this may happen to some believers for major sins they committed as proven in the authentic traditions (Ahadith Mutawaterah) of intercession (Al-Shafa`a).

Second:
To say that permanent exclusion does not apply to those who meet Allah on Tawhid is strictly speaking conditional and the criteria applied is demanding. It begins with knowledge of the meaning of La ilaha ill Allah and acting upon it. Other conditions will be presented when the tradition narrated by `Otban on the condition of sincerity, is discussed.

It is narrated by Abu Hurairah that: "We were sitting around the Messenger of Allah (sallallahu `alaihi wa sallam). Abu Bakr (radhiallahu `anhu) and `Omar (radhiallahu `anhu) were with us. The Messenger of Allah (sallallahu `alaihi wa sallam) got up and departed. He was long in coming back and we were worried that he may be attacked, so we arose and I was the first to rise and go out seeking the Messenger of Allah (sallallahu `alaihi wa sallam). Eventually, I came to a wall belonging to the Ansar (helpers) of Bani an-Najjar. I went all around it to find a door but found none. I saw a small river going through an opening in the wall from a wall outside it. I drew myself together like a fox and entered on the Messenger of Allah (sallallahu `alaihi wa sallam). He exclaimed: "Abu Hurairah?" I said: "Yes, O Messenger of Allah." He said: "What is the matter with you?" I said: "You were wit us, arose and were late coming back. We were worried that you may be attacked and we became alarmed. I was the first to follow you, and came upon this wall. I drew myself together like a fox and these people are behind me." He said: "O Abu Hurairah," then gave him his sandals and said: "Take my sandals. Whomever you meet behind this wall and who witnesses that there is no deity worthy of worship except Allah, his heart certain in its belief, give him the glad tidings of Al-Jannah (Paradise)."

He mentioned the tradition and in it `Omar radhiallahu anhu asked: "O Messenger of Allah, may parents be sacrificed for you, did you send your sandals with Abu Hurairah (radhiallahu `anhu) to give glad tidings of Al-Jannah to whomever he met witnessing with certainty that there is no deity worthy of worship except Allah?" He said: "Yes." He said (meaning `Omar radhiallahu `anhu): "Then do not. I fear that people may depend upon it (meaning they will become lax). Let them do (good deeds). The Messenger of Allah sallallahu `alaihi wa sallam said: "Let them."

His saying: "Give him glad tidings." [If a man is given glad tidings his face becomes relaxed. That is because if a person is happy, the blood will rush to his face like water in plants]. The meaning is that the Messenger of Allah sallallahu `alaihi wa sallam knew that every Muslim that Abu Hurairah (radhiallahu `anhu) was going to meet will enter Al-Jannah (Paradise).

His saying: "…his heart is certain…" The condition of certainty requires the negation of suspicion and doubt and this is the main point of narration.

These traditions tell us:

First:
The belief in the Hereafter, judgment and recompense is necessary.

Second:
The excellence of Tawhid and that whoever dies upon it, certain in its belief will enter Al-Jannah (Paradise).

Third:
The (decision) of al-Shurah (consultation) is acceptable provided it is correct even if it were from one person. The idea is not to collect votes.

Fourth:
To prevent corruption/mischief is given preference over bringing benefits. This is in accordance with the Shari`ah not with human judgment. Evidences of that are to be found in the numerous texts which we are unable to recount here.